Wednesday, February 24, 2016

Teknis Pembenihan Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes Altivelis)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Ikan merupakan sumber prospek perekonomian dan potensial di budidayakan di indonesia yang cukup diminati oleh pembisnis dikarenakan harga ikan yang cukup mahal dan bayak di cari dikarenakan sebagai bahan protein yang di butuhkan untuk manusia untuk tumbuh. Pada ikan laut mempunyai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan ikan tawar dan payau terutama ikan Kerapu, Bawal bintang, Kakap dan rumput laut.


Ikan kerapu mempunyai pasar yang menjajikan  didalam negeri ukuran kerapu Rp. 2000/cm , bahkan pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina di jual dengan harga Rp. 7000,00/cm  (Puja et al, 2001). Ditambah permintaan kerapu terutama kerapu bebek dari tahun ke tahun terus meningkat dan Selain dari harga Ikan kerapu yang terus stabil dan meninkat.

Pertengahan tahun 1980-an kerapu ini mulai di kembangkan oleh pemerintah dengan mengadakan di hatchery. Di Balai Budidaya Laut Lampung pada tahun 1993 terus mengupayakan membudidayakan kerapu bebek dan sudah dapat mengembangkan teknologi kerapu bebek dengan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon untuk benih.

Oleh karena itu, pada saat ini budidaya ikan kerapu mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar ikan kerapu, baik sebagai komoditas ekspor maupun pasaran dalam negeri.



1.2. Tujuan
  • Mengetahui  teknik pembenihan kerapu
  • Mengetahi mengaplikasikan diteori dalam praktek
  • Mengetahui permasalahan yang timbul dalam pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis).
  • Sebagai salah satu syarat dalam outscorsing
  • Dapat mengatasi masalah yang timbul dalam budidaya



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi Kerapu Bebek
Menurut Sunyoto (1994), Ikan kerapu terdapat dalam 46 spesies yang hidup di berbagai tipe habitat. Dari jumlah tersebut berasal dari 7 genus, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut, genus Chromileptes, Epinephelus, dan Plectropomus yang sekarang digolongkan ikan komersial, dan mulai dibudidayakan. Ikan kerapu Bebek, dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama Humback seabassPolka-dot grouper, ataupun Hump-backed rocked.
Ikan kerapu bebek dalam perdagangan Internasional mendapat julukan sebagai Panther fish karena di sekujur tubuhnya dihiasi bintik-bintik kecil bulat berwarna hitam. Kerapu Bebek selain ikan konsumsi, yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan penampilan yang menarik sebagai ikan hias akuarium, oleh karena itu kerapu bebek mempunyai nama lain yang cukup populer dan cantik yaitu Grace Kelly (Antoro dkk. dalam Anonimous, 1999).

Menurut Randall (1987) klasifikasi ikan kerapu bebek adalah :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichtyes
Subclass : Actinopterigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Family : Serranidae
Subfamili : Epinephelinae
Genus : Cromileptes
Spesies : Cromileptes altivelis




2.2  Morfologi


Ikan ini memiliki bentuk badan yang lonjong dan agak gepeng. serta bagian kepala memiliki bentuk yang mendatar, sehingga menyerupai kepala bebek. Moncongnya kelihatan meruncing seperti moncong tikus. Sirip punggung tersusun dari 10 jari-jari keras dan 17-19 jari-jari lunak, sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 10 jari-jari lunak. Ikan ini bisa mencapai ukuran panjang hingga 70 cm atau lebih namun yang umum ditangkap dan dikonsumsi kebanyakan berukuran 30-50 cm (Kordi, 2005).

Tubuh ikan ini memiliki warna dasar abu-abu dengan bintik-bintik hitam berukuran cukup besar dan terbatas jumlahnya. Warna badan bagian atas merah sawo matang, dibagian bawah keputihan dan pada seluruh tubuh baik kepala sampai ujung ekor termasuk siripnya, terdapat noda-noda berwarna coklat tua yang menyebar secara merata (Murtidjo, 2002).

2.3  Habitat Dan Penyebaran
Pada umumnya, penyebaran ikan kerapu dapat dikatakan identik dengan penyebaran terumbu karang, daerah tersebut merupakan habitat utamanya (Murtidjo, 2002). Kerapu muda biasanya hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 meter. Setelah menginjak  dewasa berpindah ke perairan yang lebih dalam, yakni di kedalaman 7 – 40 meter. Biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang dan sore hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989 dalam  Subyakto dan Cahyaningsih, 2005).

Parameter-parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu temperatur antara 24-31 oC, salinitasnya antara 30-33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8-8,0 (Yoshimitsu, 1986 dalam Anonimous, 1999).
Ikan kerapu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Di Indonesia ikan kerapu bebek banyak didapati di daerah perairan Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru dan Ambon dengan salah satu indikator adanya kerapu di daerah berkarang . Kerapu berkembang baik pada terumbu karang hidup maupun mati atau perairan karang berdebu dan tide pools .Dalam siklus hidup, kerapu bebek muda hidup diperairan karang pantai dengan kedalaman 3-5 m dan kerapu dewasa hidup pada kedalaman 40 – 60 m .Parameter ekologis yang cocok untuk pertumbuhan ikan kerapu yaitu pada kisaran suhu 24 – 31°C, salinitas antara 30 – 33 ppt, kandungan oksigen terlarut lebih besar dari 3,5 ppm dan pH antara 7,8 – 8,0 .(Departemen pertanian, Direktorat jenderal perikanan 1999).

Effendi, 2002 menyampaikan bahwa ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. mengatakan fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu bebek sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan umur ikan, indeks matang kelamin dan ukuran tubuh.  Induk kerapu bebek yang ditangkap di alam memiliki ukuran kecil dan pada umumnya berjenis kelamin betina.  Induk ikan akan mengalami pematangan kelamin sepanjang tahun.

2.3.1.  Kebiasaan Makan
Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1,70 – 1,78 mm, mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama, pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. Dan hari ke empat kuning telur telah habis terabsorbsi. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 – 29 ºC.

Setelah telur menetas sampai derngan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus, rotifera merupakan pakan pertama. Selanjutnya Muchari. et al. (1991) mengutip pendapat Blaxter dan Hempal dalam Tseng dan Chan (1985) kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh sutau keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal, sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia, dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan.

Ikan kerapu bersifat karnivora terutama larva molusca, rotifera, krustacea kecil, kopepoda, dan zooplankton. Sedangkan untuk ikan kerapu yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil, krustacea dan cepalophoda. Menurut Nybakken ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyianya.

2.3.2.  Siklus Hidup dan Reproduksi
Kerapu bebek bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan apabila tumbuh menjadi lebih besar  atau bertambah tua umurnya, fenomena ini berkaitan erat dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran. Kerapu matang gonad pada ukuran panjang 38 cm .Umumnya kerapu bersifat soliter tetapi pada saat akan memijah akan bergerombol musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada Bulan Juni – September dan Nopember – Februari terutama pada perairan kepulauan Riau, Karimun, Jawa dan Irian Jaya. Berdasarkan perilaku makannya ikan kerapu menempati struktur tropik teratas dalam piramida rantai makanan salah satu sifat buruk dari ikan kerapu adalah sifat kanibal tapi pada kerapu bebek sifat kanibalis tidak seburuk pada kerapu macan dan kerapu lumpur (Tampubulon dan Mulyadi, 1989).

Ikan kerapu bebek merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, yaitu pada tingkat perkembangan mencapai dewasa (matang gonad), proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau dapat dikatakan ikan kerapu bebek ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan (Effendi, 2002).




2.3.3. Cara Makan dan Jenis Makanan
Ikan kerapu tikus merupakan hewan karnivora yang memangsa ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. Ikan kerapu tikus bersifat karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam kolam air (Nybakken, 1988 dan Anonim, 2001). Kerapu tikus juga cenderung bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis ikan kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil (Cholik, dkk 2005).
Ikan kerapu tikus mencari makan hingga menyergap mangsa dari tempat persembunyiannya dengan cara memakan satu per satu makanan yang diberikan sebelum makanan tersebut sampai ke dasar ( Anonim, 2001 ).

2.3.4. Siklus Hidup
Dalam siklus hidupnya, pada umumnya kerapu tikus muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5-7 meter selanjutnya menginjak masa dewasa berupaya ke perairan yang lebih dalam antara 7-40 meter, biasanya perpindahan ini berlangsung pada siang hari dan senja hari, telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu muda hinggga dewasa bersifat demersal (Tampubolon dan Mulyadi, (1989).  Menurut Effendi (1979) menyatakan bahwa ikan kerapu merupakan jenis ikan bertipe hermaprodit protogini, dimana proses diferensiasi gonadnya berjalan dari fase betina ke fase jantan atau ikan kerapu ini memulai siklus hidupnya sebagai ikan betina kemudian berubah menjadi ikan jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin pada ikan kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).

2.3.5. Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad
Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode pengurutan.
Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran (Subyakto dan Cahyaningsih 2003). Di habitat aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8 malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu  jantan akan berenang berputar-putar mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya, kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003)

2.4. Aspek Penggelolaan Induk
2.4.1. Bak Pemeliharaan Induk
Bak Pemeliharaan yang dipakai yaitu bak beton yang berbentuk bulat agar sirkulasi bisa berjalan lebih sempurna dan KJA.  Bak pemeliharaan induk berbentuk bulat dan bersamaan dengan bak pemijahan induk, kapasitas bak minimal adalah 50 m3 dengan kedalaman 2,5 – 3,0 m.
2.4.2. Pemberian Pakan  
Pemberian pakan dengan menggunakan ikan rucah segar dengan kombinasi cumi – cumi. Frekuensi pemberian pakan sendiri yaitu 1 kali sehari dengan pemberian cumi – cumi 2 kali seminggu. Pemberian pakan pada waktu jam 07.00 WIB jenis ikan yang di diberikan yaitu ikan rucah dan pemberian vitamin E dan multivitamin 2 minggu sekali.


2.5. Pemijahan
Menurut Effendie (1993), pemijahan ikan adalah pertemuan sel telur dan sperma yang umumnya terjadi secara eksternal. Selanjutnya menurut Liviawaty dan Afrianto (1999), pemijahan merupakan salah satu ciri makhluk hidup untuk mempertahankan kelestariannya keturunannya. Keberhasilan pemijahan sangat tergantung pada kondisi lingkungan sekitarnya. Pemijahan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (1). Pemijahan alami yaitu dengan cara membiarkan ikan memijah sendiri, (2). Pemijahan buatan yaitu dengan menggunakan teknik hipofisa, merangsang induk ikan dengan menambahkan sejumlah hormon gonadotropin.
Pasangan hidup yang telah matang gonad bila disatukan akan segera memijah akan tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama yaitu musim pemijahan, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada (Lestari, 1997). Menurut Imanto (1995), bahwa musim pemijahan ikan kerapu tikus diteluk Banten antara bulan juni-september di dalam keramba jaring apung dan bak terkontrol antara bulan Maret – Desember.

2.6.  Perkembangan Telur
Menurut Subyakto (2003), ciri-ciri telur yang terbuahi adalah transparan, melayang di air atau mengapung di permukaan air, berdiameter 850-950 mikron, mempunyai gelembung minyak yang berdiameter 170-220 mikron dan terletak di bagian belakang (posterior) sehingga posisi embrio larvanya nungging. Telur yang terbuahi akan mengalami perkembangan lebih lanjut menjadi embrio dan menetas menjadi larva sekitar 19 jam setelah di buahi. Sementara itu, warna telur yang tidak terbuahi segera berubah menjadi keruh atau putih susu dan mengendap di dasar bak.

Pembelahan sel pertama kali terjadi sekitar 40 menit setelah pembuahan dan pembelahan sel berikutnya berlangsung setiap 15-30 menit hingga mencapai tahap multisel selama 2 jam 25 menit sejak penetasan. Setelah tahap multisel, tahapan berikutnya adalah fase blastula, gastrula, neurula, dan embrio. Telur yang telah dibuahi berbentuk bulat, transparan, mengapung di permukaan air sedangkan yang tidak dibuahi berwarna putih dan tenggelam di dasar (Les in Polovina and Rainston., 1987; Antoro et ql., 1999; Usrnan, 1999). Telur yang dibuahi akan berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva.

2.7. Perkembangan Larva
Panjang tubuh total larva kerapu tikus hampir sama dengan jenis kerapu lainnya, yakni berkisar 1,5-2 mm. Sedangkan menurut Kohno et al, 1990 panjang total larva kerapu tikus, yakni 1,287-1,393 mm.ketika larva berumur satu hari (D1), saluran pencernaanya sudah mulai terlihat, tetapi mulut dan anusnya masih tertutup dan calon matanya yang transparan sudah terbentuk. Larva berumur dua hari (D2) bersifat planktonis, bergerak mengikuti arus, sistem penglihatannya belum berufungsi, dan masih memiliki kuning telur (yolk egg).
Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama (D1). Pada hari kedua (D2), sirip dada mulai terbentuk dan jaringan ususnya telah berkembang sampai ke anus (Sugama dkk. 2001).

2.8. Parameter Kualitas Air
Guna mendukung benih ikan kerapu tikus hidup dan tumbuh dengan baik, selain harus tersedia pakan yang bergizi dalam jumlah dan kualitas yang baik, kondisi lingkungan fisik dan kimiawi air harus berada pada kisaran yang optimum. Kualitas air yang berperan terhadap kelangsungan hidup pada pertumbuhan ikan kerapu tikus meliputi : suhu air, oksigen terlarut, pH air, salinitas dan ammonia (Akbar dan Sudaryanto, 2001).

Suhu pH DO Salinitas Amonia
27-31 oC 7.5-8.8. 4-12 ppm 31-33 ppt <0,060

2.9. Hama dan Penyakit
Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA adalah ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasis dan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).





BAB III
METEDOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktek magang ini dilaksanakan pada tanggal 15 – 28 Juni 2014 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung yang terletak di jalan Yos Sudarso, Desa Hanura, KecamatanPadang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

3.2. Bahan dan Alat
Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam melakukan pembenihan ikankerapu tikus
(Cromileptes altifelis) antara lain, sebagai berikut:
Tabel 1. Alat – alat yang digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan Kerapu bebek
(Cromileptes altifelis)

Tabel 2. Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan Kerapu bebek
(Cromileptes altifelis).



3.3. Langkah Kerja
  • Membersihkan wadah pemijahan, pembenihan dan pembenihan.
Pembersihan bak dilakukan dengan cara menyikat bagian bak yang kotor dan bayak terdapat lender ikan. Bak yang kotor dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri dan lendir ikan akan mengakibatkan tubuhnya jamur.
  • Pengeringan wadah pemijahan, penetasan dan pembenihan.
Pengeringan dilakukan untuk menguapkan senyawa – senyawa beracun dan mematikan bakteri yang ada dalam bak.
  • Persiapan alat – alat.
Persiapan alat – alat seperti alat kualitas air, alat lab, aerasi.
  • Pengisian air.
Pengisian air dilakukan pada saat setelah pengeringan minimal 1 hari. Dan pengisian wadah pemijahan tidak boleh terlalu penuh agar induk ikan tidak loncat ke luar wadah.

  1. Pengelolaan induk
Pengelolaan induk dilakukan untuk mendapatkan calon induk yang sudah siap memijah dan mendapatkan hasil anakan yang baik dan berkualitas. Tahap nya antara lain adalah
  1. Pemilihan calon induk
  • Tidak memiliki morfologi yang cacat.
Mempunyai morfologi yang lengkap tidak ada yang rusak ataupun kehilangan bagian organ tubuh luarnya seperti sirip dan tubuh luka yang akibat dari hasil inbreeding.
  •   Tidak dalam keadaan stress.
Pencarian ikan yang tidak stress dimaksudkan agar ikan mau memijah, jika ikan dalam keadaan stress maka ikan akan menolak untuk memijah.
  • Matang gonad.
Matang gonad sangat penting dalam pemijahkan, ikan yang matang gonad akan menentukan kualitas telur dan sperma.
  • Tidak sakit.
Diharapkan ikan tidak keadaan sakit, karena pada saat sakit ikan akan cenderung menstabilkan tubuhnya dan banyak berdiam diri. Jika ikan sakit diharapkan untuk di pisahkan dan di rawat terlebih dahulu hingga sehat keembali.
  1.  Seleksi induk jantan dan betina
  2. Pemberian pakan induk
  • Pemberian pakan 1 kali sehari at libitum.
Untuk mengasilkan anak yang baik, ikan diberi pakan untuk mendapatkan energi, dari energi ikan tersebut digunakan oleh ikan untuk proses perkembangan gonad dan kesehatan telur.
  • Pemberian pakan ikan segar.
  1. Pemijahan induk
  • Sistem manipulasi lingkungan
  1. Penetasan telur dan pemeliharaan larva.
  2. Mengkondisikan suhu air.
  • Penggunaan Suhu 29 – 30°C.
  1. Pemindahan Telur ke bak penetasan.
  2. Pemberian pakan alami
  • Pengecekan kuning telur
Pengecekan kuning telur merupakan proses untuk menentukan pemberian pakan terhadap ikan tersebut. .
  •    Pemberian pakan berupa rotifer, naupli artemia dan pelet
  1.   Pengelolaan kualitas air
  • Mengukur pH, Suhu , Amoniak , dan kadar oksigen air.
Pengukuran kualitas air dilakukan seminggu 1 sekali kecuali suhu yang dilakukan setiap hari.
  1. Pengendalian Hama dan Penyakit
  • Membersikan bak penetasan.
Pengendalian penyakit dengan membersikan bak penetasan dan mengendapkan air tersebut.
  • Mensterilkan sekitar bak penetasan.
Mensterilkan bak dari kotoran dan sampah daun ataupun serangga agar mencegah penyakit masuk ke wadah.
  • Menutup bagian atas wadah.
Penutupan agar mencegah masuknya benda asing ke dalam wadah dan pengaturan suhu agar tetap stabil.
  1.  Perhitungan jumlah telur.
  • Menimbang berat induk betina sebelum dan sesudah ovulasi.
  • Menimbang sample telur.
  • Menghitung telur.
Jumlah sample / berat sample = jumlah telur / (berat induk betina sebelum dipijahkan – sesudah dipijahkan).



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembenihan
4.1.1. Bak pemeliharaan Induk
Wadah merupakan bagian yang sangat penting yang   sebelum melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pembenihan ikan termasuk dalam pengelolaan induk. Wadah yang digunakan di BBPBL Lampung untuk pemeliharaan dan pemijahan induk merupakan wadah yang sama. Wadah ini terbagi atas 2 jenis yaitu keramba jaring apung dan bak terkontrol yang terbuat dari beton dan berbentuk tabung dengan diameter 3 dengan ketinggian 3 meter dan kapasitas daya tampung ± 84,86 m sementara keramba jarring apung yaitu 3 x 3 x 3 m.

4.1.2. Penyediaan Induk
Induk yang berada di BBPBL mempunyai panjang 40 – 62 cm dan berat 1,4 – 4,8 kg. Induk betina memiliki berat dan panjang antara 1,4 – 4,8 kg dan 40 – 60 cm. Pemeliharaan induk sudah hasil famili 1 yaitu sudah merupakan hasil balai sendiri.

4.1.3. Pemeliharaan Induk 
4.1.3.1. Pemberian pakan
Pakan diberikan pada induk untuk mempertahankan hidup perkembangan gonad. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah jenis ikan kuniran, cumi-cumi dan kerang-kerangan. Disimpan dalam lemari pendingin guna mempertahankan kualitasagar tetap baik. Sebelum diberikan, terlebih dahulu pakan ini di rendam kedalam air guna mencairkan es – es yang terdapat pada pakan.

Selain pakan ikan rucah dan cumi, induk juga diberikan vitamin Cdan E berbentuk kapsul dan spirulina berbentuk tablet. Menurut Wardoyodan Muchsin (1990), vitamin E dapat memperlancar kerja fungsi sel-sel kelamin dengan bertambahnya fungsi hormon gonadotropin sertamenguatkan jaringan indung telur dan vitamin C berperan dalam menjagakondisi kesehatan induk, mempercepat kematangan gonad dan dapatmeningkatkan kualitas telur. Vitamin diberikan 2 kali dalam seminggu sementara spirulina diberikan setiap hari.

4.1.3.2. Pencegahan Penyakit
Pengendalian terhadap penyakit induk kerapu tikus (Cromileptes altivelis) dilakukan apabila ada induk yang terserang penyakit atau paling tidak dilakukan sekali dalam sebulan. Parasit pembawa penyakit yang ditemukan pada induk banyak. Pencegahan dan pengobatan dilakukan menggunakan air tawar dan obat acriflavin air tawar dipakai untuk merendam induk-induk dengan tujuan agar parasit-parasit yang menempel pada tubuh induk mati karena ada sebagian parasite yang hidup di air laut akan mati setelah terkena air tawar. Hal ini sesuai dengan pendapat Sugama dkk (2001), bahwa untuk menghindari serangan penyakit disarankan untuk membersihkan induk dengan perendaman air tawar setiap bulan sebelum induk memijah.

4.1.4. Pemijahan
Pasangan induk yang telah matang gonad apabila dikumpulkan dalam satu tempat, pada waktunya akan terjadi pemijahan akan tetapi ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pemijahan tersebut. Pertama adalah faktor teknis yang meliputi penanganan induk, seleksi induk dan metode yang digunakan, kedua adalah faktor nonteknis yang meliputi iklim, letak geografis dan kondisi lingkungan dimana induk berada. seekor induk betina berukuran 3 – 4 kg dapat menghasilkan 200 – 300 ribu butir telur per satu kali memijah. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air, sedangkan telur yang tidak dibuahi dan mati akan mengendap didasar pada slinitas air antara 28 -35 ppt.
Pemijahan kerapu tikus terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:2 dengan berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan yang digunakan di BBPBL Lampung menggunakan metode manipulasi lingkungan dengan menaikan dan menurunkan suhu. Pemijahan kerapu bebek terjadi pada 21.00 – 02.00 WIB, hal ini seperti pendapat Antoro et al. (1999) Bahwa pemijahan ikan kerapu bebek di bak terkontrol dapat terjadi malam hari antara jam 19.00 – 02.00 WIB dan pada bulan gelap dengan frekuensi pemijahan setiap bulan 5 – 12 kali.

4.1.4.1.  Pemanenan Telur
Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00-08.00 wib. Pemanenan harus dilakukan secara hati – hati agar perkembangan emberio tidak terganggu sehingga dapat berkembang dengan baik dansempurna. Pemanenan menggunakan scop net berukuran 400 mikron. Telur – telur yang telah diserok dimasukkan ke dalam ember berukuran 10 atau 20 liter yang telah berisi air laut. Kemudian telur – telur   tersebut dipindahkan ke dalam akuarium yang berukuran 65 x 40 x 40 cm lalu  ditambah air hingga volume air mencapai 90 liter dan diberi aerasi. Jumlah telur yang dipanen 1.420.000 telur.

4.1.4.2. Seleksi Telur
Telur yang sudah dipanen kemudian diseleksi secara selektif untuk mencari telur yang dibuahi dan tidak dibuahi. Telur yang dibuahi berwarna tidak pucat dan trasparan biasanya mengapung diatas permukaan air. meseleksi telur dengan cara menyipon terlur yang tidak terbuahi untuk mencegah tubulnya berbagai penyakit seperti jamur.

4.2.1. Pemeliharaan Larva
4.2.1.1. Bak Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva berbentuk persegi panjang dengan bak sudut tumpul. Bak terbuat dengan beton dengan ukuran panjang 3,5 x 2 x 1,5 m berkapasitas 3 m3 yang berjumlah 12 buah. Sebelum digunakan bak terlebih dahulu dicuci dengan menggunakan kaporit menggunakan dosis 100 mg/l dan dibiarkan selama 3 jam, kemudian bak dibilas kembali meenggunakan air laut. pemberian kaporit bertujuan untuk membunuh pathogen – pathogen yang tumbuh dibak pemeliharaan sehingga mencegah terjadinya penyakit pada larva. Bak diisi dengan air laut berkisar 6 – 7 m3 dan untuk memenuhi kebutuhan oksigen terlarut dilakukan pemasangan aerasi.

4.2.1.2. Penebaran Larva
Penebaran larva dilakukan beberapa jam setelah  telur menetas dengan menggunakan wadah baskom. Sebelum itu larva di ambil menggunakan seser kemudian ditempatkan sementara dibaskom setelah itu ditebar ke bak pemeliharaan. Padat tebar yang dipakai yaitu 10 – 15 ekor/l penebaraan dengan cara aklimatiasi.

4.2.1.3. Perkmbangan Larva
Telur yang terbuahi akan mengalami perkembangan hingga menjadi larva dan kemudian akan menjadi benih. Larva kerapu bebek yang menetas, berwarna kuning trasparan, melayang – laying mengikuti gerakan air akibat pengadukan aerasi.  Penatasan telur D0 mengalami perkembangan hingga menjadi benih yaitu selama 45 hari.



4.2.1.4. Pemberian Pakan
Salah satu kunci keberhasilan hidup larva adalah adalah adanyapasokkan makanan dari luar setelah cadangan makanan di tubuh larva habis. Slamet dkk (1996) mengemukakan bahwa larva yang baru menetasmempunyai kuning telur (yolk) dan pada ujung kuning telur tedapat butitanminyak dan berfungsi sebagai cadangan makanan larva. Pemberian pakan pertama dimulai sejak larva berumur D2 yakni pada sore hari. Adapun jenis pakan yang diberikan antara lain, sebagai berikut:
  1.  Nannochloropsis sp atau Tetraselmis sp
Diberikan sejak larva berumur D2-D25 dan ini merupakan tahap awal pemberian pakan bagi larva. Hal ini dikenal dengan metode greenwater system adapun kepadatan untuk Nannochloropsis sp 2-4 x 105 sel/ml dan
Tetraselmis sp 1-2 x 105 sel/ml. Selain untuk pakan larva,plankton ini juga berfungsi untuk mengatur keseimbangan insensitas cahaya dan suplai oksigen (siang hari) serta sebagai makanan rotifera.

  1. Minyak ikan
Diberikan pada pagi hari saat larva umur D3-D7. Minyak ikandiperkaya asam lemak tidak jenuh (omega 3) dengan tujuan untuk suplai vitamin a untuk larva dan rotifera sekaligus sebagai pelicin agarlarva tidak mengapung di permukaan air.

  1. Rotifera
Rotifera diberikan pada larva mulai umur D2 tepatnya pada sore hari sampai pada larva umur D25. Kepadatannya antara 5-7 ind/ ml bahkan lebih, seiring bertambahnya umur larva. Rotifera diperoleh dari bak  kultur massal yang dipanen setiap hari. Pemberian ini dilakukan 2 kali dalam sehari. Sebelum diberikan kepadatan larva dicek menggunakan gelas kaca, bertujuan untuk mengetahui kepadatan rotifera yang terdapat di dalam bak.

  1. Artemia Naupli
artemia mulai diberikan pada larva umur D14. Pemberian naupli artemia 2 x sehari yakni pada pagi dan sore hari. Naupli artemia diperoleh dari hasil kultur. Kultur artemia dilakukan menggunakan bak fiber hitam yang terdapat di ruang pembenihan. Lama pengkulturan ±18-20 jam. Hasil panen naupli artemia dibagi menjadi 2 bagian yaitu untuk pemberian pagi dan pemberian sore. Naupli yang diberikan pada sore hari diberikan pengkayaan berupa minyak cumi. Ini bertujuan untuk menambah nutrisi dan supaya ukuran artemia menjadi besar. Kepadatan naupli artemia yang diberikan berkisar antara 1-3 ind/ml. Pemberian naupli artemia akan dihentikan jika larva telah mampumengkonsumsi pakan bauatan secara utuh.

  1. Pakan buatan Pakan
yang digunakan bermerek Love Larva ukuran pakan yang diberikan bervariasi tergantung umur dan ukuran larva. Pakan inidiberikan sejak larva berumur D16. Pada awal pemberiannya, pakandiberikan sedikit demi sedikit gunanya untuk membiasakan sekali merangsang larva untuk memakan pakan ini. Pakan ini diberikan sampai larva masuk ke tahap pendederan.
Pakan sangat berkaitan dengan pertumbuhan larva, sehingga dilakukanlah pengukuran larva untuk melihat tingkat pertumbuhannya. Pengukuran larva dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva sebagai sampel lalu diukur panjang larva dan diambil rata-rata dari pengukuran tersebut. Pengukuran panjang larva dilakukan sebilan harisekali atau ketika larva telah melewati masa-masa kritis dimana masa-masa kritis yakni pada umur D7 sampai dengan D10.

4.2.1.5. Pengelolaan Kualitas Air
Keberhasilan pemeliharaan larva kerapu bebek
dalam suatu pembenihan salah satunya ditentukan oleh kondisilingkungan atau kualitas air.
  1. Filterisasi air. Meliputi penyaringan di tandon, penyaringan menggunakan flter elektronik dan penyaringan menggunakan kain kasa.
  2. Sirkulasi atau pergantian air. Pergantian air dimulai sejak umur D7 sebanyak 5% dan ditingkatkan menjadi 10% setelah berumur D10. Pada umur D20 sampai panen pergantian air ditingkatkan menjadi 20-50%.
  3.  Sipon. Penyiponan dilakukan ketika larva menginjak umur D16 atau jika banyak terdapat kotoran di dasar bak.d.
  4.  Penggunaan penutup bak. Penutup bak berbahan plastik terpal.Tujuannya untuk menjaga kestabilan suhu dan mencegah kotoranmasuk ke dalam bak.e.
  5.  Penggunaan probiotik. Probiotik yang digunakan bertujuan untuk menumbuhkan bakteri baik yang dapat menguraikan lumpur ataupunkotoran-kotoran sisa pakan.

4.2.1.6. Pemanenan dan Seleksi Benih (Grading)
Pemanenan dilakukan ketika larva telah mencapai umur D35-D40 atau berukuran 1,5 – 2 cm. Pemanenan bertujuan untuk memindahkan larva yang telah menjadi benih ke proses pendederan atau juga untuk dijual Bak benih yang di grading diturunkan air hingga mencapai 30 cm.Benih ditangkap menggunakan serok lalu dipindahkan ke baskom dandibawa ke tempat grading tempat grading berupa bak fiber bulat yang biasanya juga digunakan untuk pemeliharaan benih untuk pendederan.Benih kemudian di grading Grading ini dibagi menjadi 3 ukuran yaitu kecil, sedang dan besar. Setelah dipisahkan selanjutnya benih siap ditebar dibak pendederan sesuai ukurannya. Grading hampir 20% ukuran benih kecil atau belum mencapai ukuran 1,5 cm. Hal ini dapat disebabkan karena pada masa pemeliharaannya kurang memperoleh pakan akibat kalah dalam persaingan perebutan pakan tersebut sehingga pertumbuhannya terhambat. Dengan demikian, maka pemeliharaan selamalarva sudah mendekati berhasil karena 80% benih telah sesuai ukuran untuk dipanen.





BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
  • Pemijahan kerapu tikus terjadi sepanjang tahun (12 kali) artinya waktu pemijahan ikan ini tidak tergantung pada musim. Ikan kerapu tergolong memijah secara ovipar, yaitu mengeluarkan telur ketika memijah dan perbandingan induk jantan dan betina yang akan dipijahkan adalah 1:2 dengan berat berkisar antara 1 – 4 kg. Metode pemijahan yang digunakan di BBPBL Lampung menggunakan metode manipulasi lingkungan.
  • Pembenihan dimulai dari : Pemeliharaan induk, pemijahan penanganan telur dan pemeliharaan larva.
  • Pemanenan dilakukan ketika larva telah mencapai umur D35-D40 atau berukuran 1,5 – 2 cm. Pemanenan bertujuan untuk memindahkan larva yang telah menjadi benih ke proses pendederan atau juga untuk dijual Bak benih yang di grading diturunkan air hingga mencapai 30 cm.

5.2. Saran                        
Untuk mendapatkan benih yang berkualitas harus dari indukan yang berkualitas juga. Oleh sebab itu pemelliharaan induk harus diberikan pemberian pakan yang teratur dan vitamin menunjang untuk perkembangan gonad. Pada saat pengelolaan induk optimal maka akan menghasilkan keturunan yang baik seperti tahan pada penyakit, HR dan SR yang tinggi.









DAFTAR PUSTAKA 
Akbar, S. dan Sudaryanto, 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek(Chromileptes altivelis). Penebar Swadaya. Jakarta.
Anonim, 1993. Petunjuk Pelaksanaan Penangulangan Penyakit Ikan. Direktorat
Anonimous. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek(Chromileptes altivelis). Pusat riset dan pengembangan Eksplorasi laut dan Perikanan Departemen kelautan dan perikanan dan Japan International Cooperation Agency, balai riset budidaya laut. Gondol.
Cholik F dkk . 2005. Akuakultur (tumpuan masa depan bangsa). Masyarakat Perikanan Nusantara dengan Taman Akuarium Air Tawar, TMII. Jakarta.
Departemen pertanian, 1999,  Pemeliharan kerapu bebek,  Direktorat jenderal perikanan
Effendi, M.I. 1979. Metode Perikanan. Fakultas Perikanan.IPB. Bogor
fuscoguttatus). Makalah Seminar Marine Fish. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H., 2005. Budidaya Ikan Laut : Di Keramba Jaring Apung. Rineka Cipta. Jakarta.
Muchari, A et al., 1991. Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu Macan (Epinephelus
Murtidjo, B.A. 2002. Budidaya Kerapu Dalam Tambak. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Puja, Y., Sudjiharo, Syarifudin. 2001. Panen dan Penanganan Pasca Panen. Pembesaran ikan kerapu macan dan Ikan kerapu tikus di KJA. Balai Besar Budidaya Laut Lampung.
Randall, J. E., (1987). A Preliminary Synopsis of the Groupers (Perciformes : Serranidae; Epinephelinae) ot the indo-pacific Region in J.J. Polovina, S. Ralston (editor), Tropical Snapper and Groupers : Biology and Fisheries Management. Westview Press. Inc., Boulder and London.
Subayakto, S., dan Cahyaningsih. 2003. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. Aggromedia Pustaka. Jakarta.
Sugama, K., Tridjoko. B. Slamet, S. Ismi, E. Setiadi dan S.Kawahara. 2001. Pentunjuk Teknis Produksi Benih Ikan Kerapu Bebek (Cromileptis altivelis). Balai Besar Riset Budidaya Laut Gondol – JIKA. Gondol Bali.
Sumber Hayati. Ditjen Perikanan. Jakarta.
Suyonto, P., dan Musthal, 2000. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tampubolon , dkk . 1989 . Metode Makan Ikan Kerapu Bebek, Pedoman Pemberian Makan, Balai Budidaya Laut, Lampung.
Tridjoko, B. Slamet, dan D. Makatutu, 1997. Pematangan Induk Kerapu Bebek Dengan Rangsangan Hormon LHRHa dan 17 – α Methyltesteron Jurnal Penelitian Perikanan Indonsia. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.

Teknik Pemeliharaan Larva Udang Vanname (Litopenaeus vannamei)


1.1      Latar Belakang
Udang merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan dalam program revitalisasi perikanan. Pada awalnya jenis udang yang dibudidayakan di air payau adalah udang windu, namun setelah mewabahnya penyakit WSSV yang mengakibatkan menurunnya usaha udang windu, pemerintah kemudian mengintroduksi udang vannamei untuk membangkitkan kembali usaha perudangan di Indonesia dan dalam rangka diversifikasi komoditas perikanan
Udang vannameii (Litopenaeus vannameii) merupakan udang asli perairan Amerika Latin yang masuk ke dalam famili Penaidae. Udang ini dibudidayakan mulai dari pantai barat Meksiko ke arah selatan hingga daerah Peru. Udang vannameii merupakan komoditas air payau yang banyak diminati karena memiliki keunggulan seperti tahan terhadap penyakit, mempunyai tingkat pertumbuhan yang relatif cepat, dan sintasan pemeliharaan yang tinggi
Udang vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001. Produksi benur udang vannameii dirintis sejak awal tahun 2003 oleh sejumlah hatchery, terutama di Situbondo dan Banyuwangi (Jawa Timur). Budidaya uji coba sudah dilakukan dan memperoleh hasil yang memuaskan. Setelah melalui serangkaian penelitian dan kajian, akhirnya pemerintah secara resmi melepas udang vannameii sebagai varietas unggul pada 12 Juli 2001 melalui SK Menteri KP No.41/2001.
angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang merangkak naik dibandingkan bulan sebelumnya. Tercatat angka ekspor udang Indonesia di Pasar Jepang pada Juli 2010 sebanyak 3.000 MT (Metrik Ton) atau meningkat 705 MT dibandingkan bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, produksi yang dibukukan Indonesia yakni di angka 2.934 MT hanya lebih kecil 66 MT dari tahun 2010.
Permintaan udang yang semakin meningkat dapat dilihat dari volume ekspor udang Indonesia pada tahun 2010 yang mencapai USD 1,57 miliar atau 63,3 % dari total nilai ekspor hasil perikanan Indonesia sebesar USD 2,34 miliar
Sejak tahun 2005, pemerintah mencanangkan budidaya udang sebagai salah satu komoditas unggulan revitalisasi perikanan. Untuk mencapai target produksi udang sebesar 540.000 ton, diperlukan induk sedikitnya 900.000 ekor dan benur udang 52,31 milyar ekor. Produksi udang vannameii selama ini dikembangkan dengan teknologi semi intensif dan intensif. Melalui manajemen budidaya yang lebih baik  ditargetkan  produksinya dapat meningkat sebesar 17,38% per tahun, yaitu: 275 ribu ton pada tahun 2010 menjadi 500 ribu ton tahun 2014
Sampai saat ini, benur yang diproduksi hatchery belum dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Kendalanya adalah kurang stok induk udang, makanan yang kurang cocok, serta teknik pemeliharaan larva dan pengelolaan yang belum memadai, hal ini menyebabkan produksi rendah. 
          Masalah besar yang dihadapi dalam melakukan usaha pemeliharaan larva udang vannameii adalah keterbatasan pengalaman dan teknologi yang dapat menjamin benih yang dihasilkan akan berkualitas baik. Salah satu upaya guna mendapatkan  benur berkualitas baik yaitu selalu mengupayakan agar media pemeliharaan selalu optimal untuk pemeliharaan larva, misalnya dengan melakukan pengelolaan air media larva, pengelolaan pakan dan pengendalian penyakit sebaik mungkin.

2.1     Biologi Udang Vannamei

2.1.1  Klasifikasi
          tata nama udang vannamei (Litopenaeus vannamei) menurut ilmu taksonomi adalah sebagai berikut :
Kingdom          : Animalia
Subkingdom    : Metazoa
Filum               : Arthropoda
Kelas               : Crustacea     
Subkelas         : Eumalacostraca
Superordo       : Eucarida
Ordo                : Decapoda
Subordo          : Dendrobrachiata
Famili              : Penaeidae
Genus              : Litopenaeus
Spesies           : Litopenaeus vannamei

2.1.2  Morfologi
          tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous) yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei memiliki tubuh berbuku-buku dan aktifitas berganti kulit luar atau exoskeleton secara periodik (moulting).
Kepala (Chepalotorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped dan lima pasang kaki jalan (periopoda). Maxiliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk periopoda beruas – ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki 1, 2, dan 3) dan tanpa capit kaki 4 dan 5.
Perut (abdomen) terdiri dari enam ruas. Pada bagian abdomen terdapat lima pasang kaki renang dan sepasang uropoda (mirip ekor) yang berbentuk kipas bersama-sama telson. Udang vannamei mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna dari perkembangan ovarinya jelas terlihat.

2.1.4  Habitat
          udang vannamei hidup di habitat laut topis dimana suhu air biasanya lebih dari 20°C sepanjang tahun dan akan menghabiskan siklus hidupnya di muara air payau. Udang vannamei dewasa dan bertelur di laut terbuka, sedangkan pada stadia postlarva udang vannamei akan bermigrasi ke pantai sampai pada stadia juvenil.

2.1.5  Tingkah Laku
          udang vannamei bersifat nokturnal. Selain itu, udang vannamei juga tahan terhadap kisaran salinitas tinggi dan salinitas rendah atau biasa disebut eurihalyn. Udang vannamei akan memangsa sesamanya (kanibalisme) apabila dalam pemberian pakan tidak tepat pada waktunya. Udang vannamei mempunyai sifat pemakan lambat dan akan makan secara terus menerus. Makanan yang akan dimakannya dicari dengan menggunakan organ sensornya.
          Udang vannamei merupakan hewan yang memakan segala jenis makanan (omnivor). Dalam mengidentifikasi makanan, udang vannamei menggunakan sinyal kimiawi dengan bantuan organ sensor atau bulu-bulu di bagian kepala. Udang vannamei akan mengalami proses pergantian kulit (moulting) yang dipengaruhi oleh tingkat jenis dan umur. Pada saat berumur muda, udang vannamei akan melakukan moulting setiap hari, dan apabila umurnya semakin tua siklus akan terjadi semakin lama. Nafsu makan akan turun 1 – 2 hari sebelum moulting terjadi dan aktifitas udang vannamei akan berhenti secara total. Proses moulting umumnya terjadi pada malam hari.
          Udang vannamei melakukan pembuahan dengan cara memasukan sperma lebih awal ke dalam thelycum udang betina selama memijah sampai udang jantan melakukan moulting. pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari pemijahan. Setelah perkawinan, induk betina akan mengeluarkan telur yang disebut dengan pemijahan (spawning). Perkawinan lebih bersifat open thelycum, yaitu setelah gonad mengalami matang telur.

2.1.6  Siklus Hidup
          Perkembangan Siklus hidup udang vannamei adalah dari pembuahan telur berkembang menjadi naupli, mysis, post larva, juvenil, dan terakhir berkembang menjadi udang dewasa. Udang dewasa memijah secara seksual di air laut dalam.  Masuk ke stadia larva, dari stadia naupli sampai pada stadia juvenil berpindah ke perairan yang lebih dangkal dimana terdapat banyak vegetasi yang dapat berfungsi sebagai tempat pemeliharaan. Setelah mencapai remaja, mereka kembali ke laut lepas menjadi dewasa dan siklus hidup berlanjut kembali.

2.1.7  Perkembangan Larva Udang Vannamei
          naupli merupakan stadia paling awal pada stadia larva udang vannamei. Kemudian berubah menjadi stadia zoea. Zoea merupakan stadia kedua pada larva udang vannamei. Kemudian bermetamorfosa ke stadia mysis. Stadia mysis merupakan stadia ketiga dari larva udang vannamei yang merupakan stadia terakhir pada larva udang vannamei. Mysis mempunyai karakteristik menyerupai udang dewasa, seperti bagian tubuh, mata, dan karakteristik ekornya. Stadia mysis akan berakhir pada hari ke tiga atau hari keempat, dimana selanjutnya akan bermetamorfosa menjadi post larva (PL). Pada PL 10 sudah terlihat seperti udang dewasa.
          perkembangan larva udang vannamei setelah telur menetas adalah sebagai berikut :
a. Stadia Naupli.
Pada stadia ini, naupli berukuran 0,32-0,58 mm. Sistem pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan serupa kuning telur sehingga pada stadia ini benih udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar. Dalam fase Naupli ini larva mengalami enam kali pergantian bentuk dengan tanda-tanda sebagai berikut ;
Nauplius I           ; Bentuk badan bulat telur dan mempunyai anggota badan tiga   pasang
Nauplius II          ; Pada ujung antena pertama terdapat seta (rambut), yang satu panjang dan dua lainnya pendek
Nauplius III         ; Furcal dua buah mulai jelas masing-masing dengan tiga duri(spine), tunas maxilla dan maxilliped mulai tampak.
Nauplius IV         ; Pada masing-masing furcal terdapat empat buah duri, Exopoda pada antena kedua beruas-ruas.
Nauplius V          ; Organ pada bagian depan sudah tampak jelas disertai dengan tumbuhnya benjolan pada pangkal maxilla.
Nauplius VI         ; Perkembangan bulu-bulu semakin sempurna dari duri pada furcal tumbuh makin panjang.

b. Stadia Zoea
          Stadia Zoea terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar     15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 3, lama waktu proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4-5 hari.
          Fase zoea terdiri dari tingkatan-tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang berbeda sesuai dengan perkembangan dari tingkatannya, seperti diuraikan berikut ini :
Zoea  I       : Bentuk badan pipih, carapace dan badan mulai nampak, maxilla pertama dan kedua serta maxilliped pertama dan kedua mulai berfungsi. Proses mulai sempurna dan alat pencernaan makanan nampak jelas.
Zoea  II      : Mata bertangkai, pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supra orbital yang bercabang
Zoea  III     : Sepasang uropoda yang bercabang dua (Biramus) mulai berkembang duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh.

c. Stadia Mysis
          Pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50-4,80 mm.
          Fase ini mengalami tiga perubahan dengan tanda-tanda sebagai berikut :
Mysis  I            :Bentuk badan sudah seperti udang dewasa, tetapi kaki renang    (Pleopoda)   masih belum nampak. 
Mysis  II           : Tunas kaki renang mulai nampak nyata, belum beruas-ruas.
Mysis  III          : Kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas.

d.  Stadia Post Larva (PL)
Stadia ini, benih udang vannamei sudah tampak seperti udang dewasa. Hitungan stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. Misalnya, PL 1 berarti post larva berumur 1 hari. Pada stadia ini udang mulai aktif bergerak lurus ke depan.

2.2     Persyaratan Lokasi
Lokasi yang paling tepat untuk membangun hatchery pembenihan udang vannamei adalah jauh dari kota dan lahan pertanian, serta muara sungai. Hatchery harus jauh dari fasilitas produksi. Hatchery memerlukan akses ke prasarana standar industri untuk mengoprasikan fasilitas yang ada. Air tawar dan air laut yang masuk dan kemungkinan mengandung bahan pencemar harus dimonitor sesuai dengan cara budidaya ikan yang baik
tempat yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tempat yang berpasir dan berbatu dimana tempat tersebut bersih, bebas dari cemaran, dan mempunyai kualitas air yang bagus setiap tahunnya. Tempat yang sering terkena banjir dan berlumpur kurang tepat untuk dijadikan hatchery karena pada waktu terjadi hujan air akan menjadi sangat keruh. Selain itu, lokasi yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tidak berdekatan dengan muara sungai  karena dapat menurunkan salinitas secara mendadak, dimana hal tersebut sering terjadi pada waktu hujan lebat. Keuntungan dari lokasi hatchery yang berpasir dan berbatu adalah kualitas air laut menjadi bagus dan secara relatif mendekati garis pantai sehingga mengurangi kerugian pada instalasi pemipaan dan kerugian pada pemompaan. Lokasi hatchery juga harus bebas dari kontaminasi limbah pertanian dan limbah industri. Parameter kualitas air yang tepat untuk kegiatan pemeliharaan larva dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.  Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Larva

Parameter
Ukuran
Temperature
28 – 32°C
DO
> 5 ppm
CO2
< 20 ppm
pH
7 – 8.3
Salinitas
25 – 35 ppt
ammonia (NH3)
< 0.03 ppm
Nitrit (NO2)
< 1 ppm
Nitrat (NO3)
< 60 ppm
Hidrogen Sulfida (H2S)
< 2 ppb

          Listrik adalah salah satu yang dibutuhkan untuk menjalankan peralatan dan semua yang mendukung sistem di hatchery. Walaupun beberapa pompa air laut dan aerator dapat dijalankan secara langsung oleh generator, hatchery dapat dioprasikan tanpa adanya suplai listrik. Bagaimanapun, lebih ekonomis apabila dijalankan di area dimana sumber listrik dapak diakses.
          Sebaiknya hatchery bertempat di area dimana banyak petani udang beroperasi, jadi larva yang diproduksi dapat dengan mudah dikirimkan dan disalurkan ke tambak. Pemilihan tempat untuk pembangunan hatchery harus dapat diakses dari fasilitas komunikasi dan transportasi.

2.3     Fasilitas Pemeliharaan larva
fasilitas yang digunakan untuk  pemeliharaan larva terbagi menjadi dua, yaitu fasilitas pokok dan fasilitas pendukung yang secara prinsip diperlukan untuk usaha pemeliharaan larva udang vannameii adalah sebagai berikut :
a.   Fasilitas Pokok
1.   Bak Filter, yaitu bak penyaring air dengan komponen penyaring berupa koral, pasir, arang, ijuk, dengan menggunakan waring sebagai pemisah komponen.
2.   Bak tandon air tawar dan air laut, yaitu bak bak penampung air laut dan air tawar yang terbuat dari beton dengan volume minimal 30% dari kapasitas total bak pemeliharaan.
3.   Bak pemeliharaan larva, yaitu bak tempat pemeliharaan larva yang terbuat dari semen maupun fiber plastik dengan volume minimal 10 m3.
4.   Bak kultur fitoplankton, yaitu tempat kultur fitoplankton sebagai penyedia pakan untuk larva yang berbentuk persegi empat  dengan volume 20% - 40% dari bak larva.
5.   Penetasan kista artemia, yaitu untuk menetaskan telur artemia sebagai makanan larva udang yang berbahan fiber glass maupun plastik dengan volume 0,02 m3.
6.   Tenaga listrik, dapat disuplai dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) di daerah terkait.
7.   Pompa air atau sarana penyedia air: pompa air laut dengan kapasitas pompa yang dapat memompa air laut dengan volume minimal 30 % per hari dari total volume air yang dibutuhkan dalam bak pemeliharaan benur, dan pompa air tawar dengan kapasitas minimal 5 % dari total volume air bak atau sarana penyedia air yang kemampuannya setara dengan kapasitas di atas.
8.   Aerasi blower/hi blow, selang aerasi, batu aerasi.

b.  Fasilitas Pendukung
1.   Peralatan lapangan: seser, saringan pembuangan air, kantong saringan air, gelas piala, sepatu lapangan, senter, gayung, ember, timbangan, selang, saringan pakan, alat sipon, peralatan panen.
2.   Peralatan laboratorium: pengukur kualitas air (termometer, refraktometer, pH meter atau kertas pH) dan mikroskop.
3.   Generator. Peralatan ini sangat dibutuhkan, meskipun unit pembenihan tersebut mempergunakan sumber listrik PLN, khususnya jika terjadi gangguan listrik PLN.

2.4     Kegiatan Pemeliharaan Larva

2.4.1  Persiapan Bak dan Media Pemeliharaan Larva
          Bak yang akan digunakan untuk kegiatan pemeliharaan larva sebelumnya harus dibersihkan dan diberi desinfektan.  Bak dibersihkan menggunakan air bersih dan detergen dengan cara menyikat seluruh permukaan dinding bak. Hal tersebut bertujuan untuk membuang seluruh kotoran yang ada dalam bak pemeliharaan. Kemudian diberi desinfektan berupa hypochlorite sebanyak        20 – 30 ppm, dan dibilas menggunakan air bersih untuk menghilangkan sisa dari chlorine, kemudian bak yang sudah dibersihkan dijemur. Bak yang berada di luar ruangan dan bak yang berukuran kecil dapat disterilisasi dengan cara penjemuran terhadap bak tersebut
          bak yang akan digunakan untuk tempat pemeliharaan larva dibersihkan menggunakan bleaching powder, kemudian dibilas menggunakan air tawar dan dijemur selama 24 jam.   Sebagian dari bak pemeliharaan diisi air laut, selanjutnya dilakukan pemasangan aerasi pada beberapa titik bak pemeliharaan. sebelum bak pemeliharaan larva digunakan untuk siklus selanjutnya, bak harus dicuci menggunakan larutan Hydrocloric Acid (HCl) kemudian dibilas menggunakan air tawar atau air laut.
          Air yang masuk ke unit pembenihan harus dibersihkan dan diberi desinfektan berupa chlorin dan dilakukan proses filtrasi sebelum didistribusikan ke area pembenihan seperti hatchery, kultur plankton, artemia, dan lain-lain. air yang digunakan untuk kegiatan pembenihan di hatchery harus difilter dan ditreatmen untuk mencegah masuknya organisme yang membawa penyakit dan patogen yang terbawa oleh air. Air yang akan digunakan, biasanya diberi desinfektan berupa chlorin. Kemudian air disaring menggunakan filter bag dan terakhir didesinfektan kembali menggunakan sinar ultraviolet (UV) atau ozon. air laut dalam bak pemeliharaaan larva ditreatmen menggunakan EDTA sebanyak 10 ppm dan trefflan sebanyak 0,1 ppm.

2.4.2  Penebaran naupli
          Naupli ditebar setelah persiapan bak dan media pemelihraan larva selesai dilakukan. Padat penebaran naupli maksimal adalah 100 ekor per liter dengan ukuran naupli yaitu 0,5 mm. naupli yang akan ditebar pada bak pemeliharaan harus mempunyai kualitas yang baik, berikut adalah ciri naupli yang mempunyai kualitas baik :
Ø Warna coklat orange
Ø Gerakan berenang aktif, periode bergerak lebih lama dibandingkan dari periode diam
Ø Kondisi organ tubuh lengkap, ukuran dan bentuk normal serta bebas patogen
Ø Respon terhadap rangsangan bersifat fototaktis positif
          kepadatan larva yang ditebar dalam bak pemeliharaan larva paling sedikit adalah 75 ekor naupli per liter. naupli yang ditebar dalam bak pemeliharan larva mempunyai kepadatan 100 sampai dengan 150 ekor naupli per liter atau atau 100.000 sampai dengan 150.000 ekor naupli per ton.
          penebaran naupli dilakukan pada pagi hari dengan tujuan untuk menghindari perubahan suhu yang terlalu tinggi dengan cara aklimatisasi.
          sebelum naupli ditebar pada bak pemeliharaan larva, harus dilakukan aklimatisasi. Aklimatisasi yang dilakukan berupa penyesuaian suhu dan salinitas air terhadap naupli. Proses aklimatisasi ini dilakukan hingga menunjukan naupli sudah dapat beradaptasi dengan media air dalam bak pemeliharaan larva.

2.4.3  Pengelolaan Pakan
a.   Pakan Alami
pakan alami yang diberikan kepada larva udang vannamei adalah fitoplankton dan zooplankton. Beberapa jenis fitoplankton yang digunakan untuk makanan larva udang adalah Skeletonema costatum, Tetraselmis chuii, Chaetoceros calcitrans. Sedangkan nauplius artemia merupakan zooplankton yang banyak diberikan pada larva udang. Hal ini dikarenakan nauplius artemia banyak mengandung nilai nutrisi yang dibutuhkan oleh larva udang.  
Pemberian pakan alami berupa Chaetoceros diberikan mulai dari stadia zoea 1 sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan, karena pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan kuning telur sebagai pensuplai makanan. pada stadia naupli belum memerlukan makanan karena masih mempunyai cadangan makanan berupa egg yolk selama 36 – 72 jam. Stadia zoea larva udang vannameii diberi makanan skeletonema sp., chaetoceros sp., dan  Thalassiosira.
pemberian algae berupa Chaetoserros dan Thallasiosiosirra pada stadia naupli diberikan sebanyak 60.000 sel/ml, stadia zoea 1 sebanyak 80.000 sel/ml, pada stadia zoea 2 diberikan sebanyak      80.000 – 100.000 sel/ml, stadia zoea 3 – mysis 1 diberikan sebanyak 100.000 sel/ml, dan pada stadia mysis 2 - 3 diberikan sebanyak 80.000 sel/ml.
Dalam melakukan kultur artemia sebelumnya menentukan banyaknya artemia yang dibutuhkan sebagai pakan larva, setelah itu dilakukan kultur cyste artemia dengan menebarkan cyste artemia dan memberikan aerasi yang kuat dalam tank kultur untuk mempercepat penetasan. Setelah cyste menetas dilakukan pemisahan antara cangkang artemia dengan naupli artemia, kemudian dilakukan pemanenan artemia
pemberian pakan artemia dilakukan enam kali dalam satu hari yaitu pada pukul 00.00, 04.00, 08.00, 12.00, 16.00, dan 20.00. Greece dan Fox (2000), menyatakan bahwa naupli artemia yang baru menetas diberi aerasi baru diberikan untuk larva. . Hal ini dilakukan agar naupli dalam penampungan sementara tetap dalam kondisi hidup. Selanjutnya naupli artemia diberikan menggunakan beacker glass dengan cara ditebarkan secara merata.

b.  Pakan Buatan
kriteria pakan buatan yang berkualitas baik adalah sebagai berikut:
a.    Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan
b.    Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan
c.    Pakan mudah dicerna
d.    Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh
e.    Memilki rasa yang disukai ikan
f.     Kandungan abunya rendah
g.    Tingkat efektivitasnya tinggi
pakan buatan yang biasa diberikan untuk larva udang vannamei adalah pakan dalam bentuk bubuk, cair dan flake (lempeng tipis) dengan ukuran partikel sesuai dengan stadianya. Kadungan nutrisi pada pakan buatan larva udang vannamei terdiri dari protein minimum 40 % dan lemak maksimum 10 %. kandungan nutrisi pada pakan buatan larva udang vannamei terdiri dari protein 28 – 30 %, lemak 6 – 8 %, serat (maksimal) 4 %, kelembaban (maksimal) 11 %, kalsium (Ca) 1,5 – 2 %, dan fosfor (phosphorus) 1 – 1,5 %.
Pakan buatan yang akan diberikan sebelumnya disaring menggunakan saringan berukuran 10 – 80 mikron. Pakan diberikan sampai pada stadia zoea 3. Pada stadia mysis Pakan buatan diberikan dengan cara disaring menggunakan saringan berukuran 50 – 150 mikron, Pakan buatan yang diberikan pada stadia PL 1 – PL 8 sebelumnya disaring menggunakan saringan berukuran 200 – 300 mikron, sedangkan pada stadia PL 9 sampai dengan panen sebelumnya disaring menggunakan saringan dengan ukuran  300 – 500 mikron. Ukuran partikel pakan buatan pada tiap stadia dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.  Ukuran Partikel Pakan Buatan Sesuai Stadia

No.
Stadia
Satuan
Ukuran
1.
Zoea
μm
50 – 100
2.
Mysis
μm
100 – 200
3.
Postlarva
μm
200 – 300
Frekuensi pemberian pakan dilakukan delapan kali dalam satu hari, dilakukan tiga jam sekali dengan pemberian dilakukan secara berselang-seling antara pakan alami dan pakan buatan. Pada pemberian pakan buatan, sebelumnya dilakukan penyaringan, hal tersebut dimaksudkan agar pakan buatan yang tersaring sesuai dengan bukaan mulut dari larva udang pada tiap stadia    

2.4.4    Pengelolaan Kualitas Air
          untuk menjaga kualitas air pada media pemeliharaan larva, harus dilakukan pengelolaan air yang baik. Pengelolaan air dapat dilakukan dengan penyiponan dan pergantian air.  Penyiponan pada dasar bak dilakukan pada saat larva masuk stadia zoea 2 – 3 selama pemeliharaan larva. Sisa pakan yang tidak termakan dan hasil metabolisme yang berupa feses dibuang dari dasar bak pada waktu – waktu tertentu (penggunan probiotik akan mengurangi penyiponan).  Jika dalam dasar bak pemeliharaan sudah terlihat kelebihan endapan, buang endapan ke dalam seser kemudian pindahkan  muatan yang tersaring ke dalam ember. Apabila pada saat proses penyiponan terdapat larva yang terbawa dari bak pemeliharaan, larva dapat dimasukkan kembali ke dalam bak pemeliharaan.
          Pergantian air selama pemeliharaan larva perlu dilakukan tergantung dari kepadatan larva, stadia larva, dan kondisi kualitas air pada bak pemeliharaan larva. Pergantian air dilakukan untuk mempertahankan kondisi parameter kualitas air dalam bak pemeliharaan agar tetap stabil. Air yang digunakan pada proses pergantian air, harus mempunyai kualitas yang lebih baik dari air pemeliharaan yang ada dalam bak. Air yang akan digunakan harus sama dengan temperatur, salinitas, dan derajat keasaman (pH) untuk menghindari stress pada larva akibat dari perubahan parameter secara mendadak.
          Pada umumnya bak pemeliharaan larva hanya diisi 50% dari kapasitas maksimal. Kemudian selama stadia zoea, dilakukan penambahan secara berangsur-angsur sekitar 10% per hari dari kapasitas maksimal air yang baru (termasuk jumlah plankton yang digunakan) sampai bak terisi penuh dan dilakukan hingga mencapai stadia mysis. Pada stadia zoea tidak dilakukan pergantian air. Pada waktu masuk stadia mysis dilakukan pergantian air sebanyak 10 – 30 % per hari. Pada stadia awal larva, dilakukan pergantian air tetapi volume pergantian air lebih besar daripada stadia sebelumnya, pada       PL 1 – 4 dilakukan pergantian sebanyak 30 – 40% dan pada PL 5 – 8 dilakukan pergantian air sebanyak 40 – 50 %. Setelah stadia PL yang lebih besar perlu dilakukan pergantian air sebesar 50 – 80 % per hari pada PL 9 – 12 dan           60 – 90 % per hari pada PL 13 – 16.
       Yang berhubungan dengan parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH, dan DO dilakukan pengecekan atau pengukuran dua kali dalam satu hari yaitu pada pagi dan sore hari. Hal tersebut dilakukan karena pada waktu-waktu tersebut terjadi fluktuasi parameter yang signifikan.

2.4.5. Monitoring Pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan larva udang dilakukan bertujuan untuk mengontrol pertumbuhan larva. Apabila pertumbuhan larva lambat dapat dipacu dengan pemberian pakan yang berkualitas. apabila pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan mendukung, maka dapat dipastikan laju pertumbuhan udang akan lebih cepat sesuai yang diharapkan. Sedangkan untuk mengamati kesehatan larva perlu dilakukan dengan pengamatan makroskopis dan mikroskopis antara lain yaitu :
  • Pengamatan Makroskopis
Pengamatan makroskopis dilakukan secara visual dengan mengambil sampel langsung dari bak pemeliharaan sebanyak 1 liter becker glass kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva, pigmentasi, usus, sisa pakan kotoran atau feces dan butiran-butiran yang dapat membahayakan larva.

  • Pengamatan Mikroskopis
Dilakukan dengan cara mengambil beberapa ekor larva dan diletakkan di atas gelas objek, kemudian diamati dibawah mikroskop. Pengamatan ini dilakukan untuk mengamati morfologi tubuh larva, keberadaan parasit, pathogen yang menyebabkan larva terserang penyakit.

2.4.6  Pengendalian Penyakit
            Pada usaha pemeliharan larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei), keberadaan penyakit merupakan salah satu permasalahan yang memerlukan penanganan secara khusus. Timbulnya penyakit dapat bersumber dari berbagai aspek, seperti : air sebagai media pemeliharan, peralatan pemeliharaan, pengaruh kontaminasi pakan, lingkungan, maupun sanitasi dari masing-masing pelaksana produksi yang secara langsung berhubungan dengan aktifitas pemeliharaan larva menyatakan Vorticella merupakan salah satu jenis protozoa yang menyerang larva dengan cara menempel pada permukaan tubuh larva atau insang pada semua stadia dalam kegiatan pemeliharaan larva udang vannamei. Ketika permukaan tubuh, alat gerak, atau insang banyak terdapat vorticella, akan menyulitkan larva dalam melakukan pergerakan, mensuplai makanan, moulting, dan respirasi.
          Penyakit yang paling serius mempengaruhi stadia larva udang vannameii  disebabkan oleh jamur, vibrio, dan bakteria. Perlakuan terhadap larva sangat sulit dan cukup mahal. Pengobatan harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Agar penyebaran penyakit tidak terjadi, bak pemijahan tidak berada pada satu tempat dengan bak pemeliharaan larva, orang yang memijahkan harus diberi desinfektan, dan penyaring air laut jumlahnya harus memadai. Pada umumnya penyakit bakterial dapat dihilangkan menggunakan erythromycin sebanyak 2 – 4 ppm, penyakit akibat jamur dapat dihilangkan menggunakan malachite green sebanyak 0,0075 ppm dan infeksi akibat protozoa dapat dihilangkan menggunakan formalin sebanyak 10 ppm apabila tingkat kematian larva terlihat lebih banyak, larva harus diamati dengan cara mengambil beberapa ekor larva untuk dijadikan sampel agar dapat diketahui penyebabnya. Apabila teridentifikasi terdapat penyakit yang menyerang harus dilakukan treatmen. Treatmen dilakukan dengan cara pemberian trefflan, antibiotik, dan EDTA.

2.5     Panen dan Pasca Panen
          Pada PL 21 – PL 25 merupakan waktu yang tepat untuk melakukan pemanenan dari bak pemeliharaan karena pada ukuran tersebut dapat dengan mudah dipelihara pada tambak dan dapat dengan mudah untuk dikirim. Larva yang ada pada bak pemeliharaan dipanen dengan cara mengurangi 1/3 air pada bak kemudian dikumpulkan pada bag net yang ditempatkan pada ujung pipa pembuangan. Metode ini cukup efisien untuk mmengumpulkan semua larva. Pernyataan tersebut tidak sependapat dengan Wyban dan Sweeney (1991), yang menyatakan normalnya pemanenan benur udang dilakukan pada saat mencapai stadia PL8 sampai dengan PL10.
          Benur yang dipanen harus mempunyai kualitas yang baik. Ciri dari benur yang siap untuk dipanen dan mempunyai kualitas yang baik adalah sebagai berikut :
a)  Mempunyai tubuh yang transparan dan usus tidak terputus.
b)  Gerakan berenang aktif dan melawan arus dan kepala enderung mengarah ke arah dasar.
c)  Kondisi tubuh setelah mencapai PL 10 organ tubuh sudah sempurna dan ekor mengembang, bebas virus.
d)  Respon terhadap rangsangan sangat responsif, benur akan melentik dengan adanya kejutan.

          Post larva dapat ditampung dalam bak plastik, bak fiberglass, atau kanvas yang berukuran 500 – 1000 liter dan diberi aerasi.  Suhu air dalam kantong plastik diturunkan menggunakan es batu. Postlarva dengan kepadatan 200 – 500 per liter dapat diangkut sampai 10 jam tanpa menimbulkan tingkat mortalitas yang tinggi.  selain itu, postlarva juga dapat diangkut menggunakan kantong plastik tipe polyethylene yang diberi oksigen. Plastik berukuran 60 x 40 cm diisi   6 – 8 liter air tawar dan air laut kemudian masukkan 3000 – 5000 postlarva. Kepadatan jumlah larva dapat dikurangi jika dilakukan pengiriman dalam waktu lama atau jarak jauh. Setelah kantong plastik terikat kencang, tempatkan dalam styrofoam atau ember plastik. Suhu diturunkan sekitar 22 – 25°C menggunakan es dan serbuk kayu pada dasar, sisi, dan atas styrofoam. Postlarva akan bertahan lebih dari 12 jam selama pengiriman. kepadatan benur dalam plastik packing pada stadia PL15 berkisar antara 500 – 1200 per liter tergantung dari ukuran benur dan lamanya waktu pengiriman. Dalam plastik tersebut diberi karbon aktif sebagai pengikat amoniak selama proses pendistribusian. Selain itu dilakukan pemberian HCl Buffer sebagai penstabil pH dan naupli artemia sebanyak 15 – 20 ekor naupli per benur untuk mencegah terjadinya kanibalisme selama proses pendistribusian.

DAFTAR PUSTAKA

Briggs, M, Simon Funge-Smith, Rohana Subasinghe, dan Michael Phillips. 2004. Introductions and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and The Pacific. FAO. Bangkok
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng. 2009. Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Teknologi Ekstensif Plus. DKP Provinsi Sulteng. Sulawesi Tengah
Edhy, W.A, Januar, P dan Kurniawan. 2003. Plankton di Lingkungan PT. Central Pertiwi Bahari. PT Central Pertiwi Bahari. Tulangbawang.
Elovaara, A.K. 2001. Shrimp Farming Manual : Practical Technology for Intensive Shrimp Production. United States of America (USA)
Gurisna. 2008. Budidaya Ikan Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.
Haliman, R.W. dan Adijaya, S.D. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya. Jakarta.
Harefa, Fa’ahakhododo. 2003. Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Heryadi, D dan Sutadi, 1993. Back Yard Usaha Pembenihan Skala Rumah Tangga. Penebar Swadaya. Jakarta.
Kordi, K.M.G.H. 2010. Pakan Udang. Akademia. Jakarta.
Kungvankij, P., L.B. Tiro, B.J. Pudarera, Jr., I.O. Potestas, K.G. Corre, E. Borlongan, G.A. Talean, L.F. Bustilo, E.T. Tech, A. Unggui, T.E. Chua. 1985. Training Manual : Shrimp Hathery Design, Operation, and Management. FAO. Bangkok
SNI 01-7252-2006. 2006. Benih Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Kelas Benih Sebar.
Soekartawi, S, A, J, Dellon dan B. Hardaker. 1986. Ilmu Usaha Tani dan Peneletian  Untuk Pengembangan Petani Kecil. UI Press. Jakarta
Soleh, M. 2006. Biologi Udang Vannamei Litopenaeus vannamei. BBPBAP Jepara. Jepara
Subaidah, S. dkk. 2006. Pembenihan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo
Subaidah, Siti dan Pramudjo, Susetyo. 2008. Pembenihan Udang Vaname. Balai Budidaya Air Payau Situbondo.
Treece, G.D, dan Fox, J.M. 2000. Design, Operation, and Training Manual for an Intensive Culture Shrimp Hatchery. Texas University. Texas
Wardiningsih. 1999. Teknik Pembenihan Udang. Universitas Terbuka. Jakarta
Wyban, J.A. dan Sweeney, J.A. 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. USA